ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Dari survei Lembaga penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny Januar Ali yang menyimpulkan pasangan Anies-Sandi meraih suara 49,7 persen atau unggul sekitar 9 persen dibanding pasangan Ahok-Djarot yang mendapat 40,5 persen, sedangkan sisanya masih ragu-ragu. Data didapat dari survei tatap muka yang digelar LSI pada 27 Februari sampai 3 Maret 2017.
LSI mewawancarai 440 responden yang tersebar di seluruh Jakarta dan Kepulauan Seribu. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan tingkat margin error sebesar 4,8 persen.
Sebanyak 63,3 persen pendukung Agus-sylvi akan beralih ke pasangan Anies-Sandi. Hanya 12,3 persen pendukung Agus yang beralih ke pasangan Ahok-Djarot, sisanya bimbang. Dari survei tersebut diketahui jumlah pemilih Muslim Jakarta yang mendukung Ahok hanya 36 persen. Lalu, dibandingkan dengan pemilih non-Muslim, pasangan Ahok-Djarot unggul 86,58 persen dan pasangan Anies-Sandi mendapat 3,65 persen.
Aroma kepanikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menghadapi Pilkada DKI putaran kedua mulai tercium. Salah satu indikasi yang sangat kuat adalah surat rahasia
yang memerintahkan semua kader untuk turun ke Jakarta membantu memenangkan
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat. Menyebar menjadi
Dalam
surat rahasia yang bocor ke media, PDIP memerintahkan semua anggota struktural
yang ada di Indonesia untuk mengirimkan kadernya ke Jakarta guna membantu
menyingkirkan lawan pilkadanya Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
baca juga: Wirathu Ciut !!! Koalisi Aceh - Sumatra - Melayu, Garda Terdepan !!
Surat
tersebut ditujukan ke pimpinan dan anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPRD
Kota/Kabupaten seluruh Indonesia untuk merapatkan barisan menjaga solidaritas
dan terus membangun komunikasi yang baik di antara struktural kader,
simpatisan, relawan dan tokoh masyarakat serta tokoh agama di DKI Jakarta dalam
upaya pemenangan Pilkada pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI
Jakarta.
Tampak
jelas PDIP sudah menasionalisasi Pilkada DKI. Hal ini tak melulu soal upaya
memenangkan Jakarta sebagai jembatan mengembalikan kemenangan PDIP pada Pemilu
2019 mendatang, tetapi ada nuansa kepanikan. Pasalnya, pada Pilkada putaran
pertama, surat sejenis tak pernah terjadi.
baca juga : Heboh !! Pengacara Ahok dan Hakim Adu Mulut Sebelum Sidang Dimulai
PDIP
patut ketar-ketir karena bergabungnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang
memiiki suara 9,45% pada Pemilu 2014 teryata tidak memberikan tambahan suara
signifikan. Jika melihat survei LSI tersebut, suara untuk Ahok cenderung
stagnan. Merebut semua pemilih bimbang sebesar 9,7% tentu mustahil.
Maka,
cara yang dilakukan adalah mengoptimalkan semua potensi yang ada untuk
mengamankan suara yang ada dan di saat yang sama menggerus suara di kubu lawan
atau membuat pemilih Anies-Sandi tidak datang ke TPS.
Saat
ini, upaya menyerang Anies-Sandi dilakukan dengan menggembosi citra Anies-Sandi
lewat kasus hukum. Sandiaga Uno, misalnya, saat ini mendadak dihadapkan pada
dugaan pencemaran nama baik yang dituduhkan dilakukan oleh Sandi dkk terjadi
pada 7 November 2013 lalu. Setelah itu, Sandi dilaporkan dengan tuduhan
penggelapan tanah pada 2012. Pengungkapan kasus ini jelas memanfaatkan
momentum Pilkada, untuk menggembosi citra Sandiaga.
Sebelum
itu, muka Anies juga diplot untuk dicoreng melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa
untuk Reformasi dan Demokrasi (Kamerad) yang menggelar aksi di depan kantor KPK
pada 30 Januari lalu. Oleh elemen mahasiswa ini, Anies dituduh menerima
transfer dana dari Abdillah Rasyid Baswedan dalam kasus proyek Vsat.
Abdillah
sempat dipanggil KPK untuk dimintai keterangan terkait dugaan korupsi proyek
Vsat atau komunikasi jarak jauh berbasis satelit di Kementerian Komunikasi dan
Informatika (Kemkominfo) tahun 2012.
Kita
tidak tahu apakah kasus tersebut bagian dari skenario perang habis-habisan PDIP
melawan Anies-Sandi atau kebetulan semata. Yang jelas, isu-isu yang tampak
dipaksakan tersebut tentu ada kepentingan politis di baliknya, ketimbang melulu
soal hukum. Kasus ini pun seolah sengaja disimpan sebagai kartu truf, karena
baru kembali dibuka pada Maret 2017 bertepatan dengan dimulainya putaran kedua
Pilkada DKI. Dalam beberapa kasus, isu hukum memang cukup efektif untuk
mencoreng muka lawan dalam kontestasi politik.
Namun,
PDIP sepertinya tidak yakin bahwa kasus hukum seperti itu mempan menggerogoti
citra lawan, sehingga harus mengumpulkan seluruh bala dari penjuru Indonesia
untuk memaksimalkan dukungan ke Ahok. PDIP seolah tak ingin membiarkan satu
suara pun tercecer percuma, mengingat ketatnya kontestasi.
Dalam
kondisi terdesak, cara yang biasa dilakukan oleh politisi kelas pemilihan lurah
adalah membuat pemilih lawan tidak datang ke TPS. Ada banyak cara untuk
mengeksekusi strategi ini, dan politisi pasti tahu bagaimana caranya. Strategi
ini pastinya juga akan menjadi bagian dari langkah taktis menyingkirkan
Anies-Sandi di tengah bayang-bayang kekalahan.
baca juga: Sertifikat Gak Cukup !! Ceramah Juga Harus Pake Pedoman !!
0 Response to "Bocor !!! Strategi Menangkan Pilkada Dengan Target TPS Tersebar Di Media"
Posting Komentar